Cari Blog Ini

Kamis, 22 Maret 2012

LANDASAN TEORI Peta-Peta Kerja


LANDASAN TEORI


2.1       Definisi Peta-Peta Kerja
Peta kerja atau sering disebut Peta Proses (Process chart) merupakan alat komunikasi yang sistematis dan logis guna menganalisa proses kerja dari tahap awal sampai akhir, melalui peta proses ini kita dapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki metoda kerja ini antara lain bisa dilihat seperti (http://yog1e.wordpress.com):
1.        Benda kerja, berupa gambar kerja, jumlah, spesifikasi material, dimensi ukuran pekerjaan, dan lain-lain.
2.        Macam proses yang dilakukan, jenis & spesifikasi mesin, peralatan produksi, tooling, dan lain-lain.
3.        Waktu operasi (waktu standar) untuk setiap proses atau elemen kegiatan disamping total waktu penyelesaiannya.
4.        Kapasitas mesin ataupun kapasitas kerja lainnya yang dipergunakan.
            Contoh informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metode kerja, terutama dalam suatu proses produksi, ialah sebagai berikut: jumlah benda kerja yang harus dibuat, waktu operasi mesin, kapasitas mesin, bahan-bahan khusus yang harus disediakan, alat-alat yang harus disediakan, dan sebagainya (Sutalaksana, 1979).
Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Lewat peta ini kita bisa melihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk kepabrik (berbentu bahan baku); kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya, seperti: transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan; sampai akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap atau merupakan bagian dari suatu produk lengkap (Sutalaksana, 1979).
Apabila melakukan studi seksama terhadap suatu peta kerja atau proses, maka untuk memperbaiki metode kerja ini akan mudah dilaksanakan. Perbaikan yang mungkin dilakukan antara lain (Sritomo, 1992):
1.        Menghilangkan aktivitas handling yang tidak efisien.
2.        Mengurangi jarak perpindahan operasi kerja dari suatu elemen kerja ke elemen yang lainnya.
3.        Mengurangi waktu-waktu yang tidak produktif seperti halnya dengan waktu menunggu (delay).
4.        Mengatur operasi kerja menurut langkah-langkah kerja yang lebih efektif dan efisien.
5.        Menggabungkan suatu operasi kerja dengan operasi kerja yang lain bilamana mungkin.
6.        Menemukan operasi kerja yang lebih efektif dengan maksud mempermudah pelaksanaan.
7.        Menemukan mesin atau fasilitas-fasilitas produksi lainnya yang mampu bekerja lebih produktif.
8.        Menunjukkan aktivitas-aktivitas inspeksi yang berlebihan.
Semua perbaikan diatas pada dasarnya ditunjukkan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan. Oleh karena itu, peta kerja merupakan alat yang baik untuk dipakai menganalisa suatu operasi kerja dengan tujuan mempermudah atau menyederhanakan proses kerja yang ada. Disamping itu juga merupakan alat yang penting guna menetapkan urutan proses yang seharusnya dilaksanakan dan menetapkan lokasi, mesin, serta personil yang diperlukan untuk masing-masing langkah pengerjaan tersebut (Sritomo, 1992).

2.2       Lambang-Lambang Yang Digunakan
            Menurut catatan sejarah, peta-peta kerja yang ada sekarang ini dikembangkan oleh Gilberth. Pada saat itu, untuk membuat suatu peta kerja, Gilberth mengusulkan 40 buah lambang yang bisa dipakai. Kemudian pada tahun berikutnya jumlah lambang-lambang tersebut disederhanakan, sehingga hanya tinggal 4 macam, yaitu (Sutalaksana, 1979):
 Gambar 2.1 Lambang-Lambang Yang Digunakan
NO
LAMBANG
PENJELASAN
1.

Operasi
Suatu kegiatan operasi terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat, baik fisik maupun kimiawi, mengambil informasi maupun memberikan informasi pada suatu keadaan juga termasuk operasi. Operasi merupakan kegiatan yang paling banyak terjadi dalam suatu proses. Dan biasanya terjadi pada suatu mesin atau stasiun kerja.
Contoh:
-  Pekerjaan menyerut kayu dengan mesin serut.
-  Pekerjaan mengeraskan logam.
2.

Transportasi
Suatu kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi.
Contoh:
-        Memindahkan barang ke tempat lain.
-        Proses laju perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain.
3.


Pemeriksaan
Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas. Lambang ini digunakan jika melakukan pemeriksaan terhadap suatu obyek atau membandingkan obyek tertentu dengan suatu standar.
Suatu pemeriksaan tidak menjuruskan bahan ke arah menjadi suatu barang jadi.
Contoh:
-   Mengukur dimensi benda.
-   Membaca alat ukur tekanan uap pada suatu mesin uap.
4.
Menunggu

Menunggu, terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan tidak mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu.
Contoh:
-        Bahan menunggu untuk diangkut ke tempat lain.
-        Menunggu diperiksa, dan lain sebagainya.
5.


Penyimpanan
Proses penyimpanan terjadi apabila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yang cukup permanen, yaitu ditahan atau dilindungi terhadap pengeluaran tanpa izin tertentu. Prosedur perizinan dan lamanya waktu adalah dua hal yang membedakan antara kegiatan menunggu dan penyimpanan.
Contoh:
-   Dokumen-dokumen atau catatan-catatan disimpan dalam brankas.
-  Bahan baku disimpan dalam gudang.
6.
Aktivitas Gabungan
Kegiatan ini merupakan gabungan dari kegiatan operasi dengan kegiatan pemeriksaan dalam waktu bersamaan.
Contoh:
Kegiatan mengamplas sambil memeriksa kehalusan permukaan dengan tangan.

2.3       Macam-Macam Peta Kerja
            Pada dasarnya peta-peta kerja yang ada sekarang bisa dibagi dalam dua kelompok besar berdasarkan kegiatannya, yaitu (Sutalaksana, 1979):
1.        Peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisa kegiatan kerja keseluruhan.
2.        Peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisa kegiatan kerja setempat.
Oleh karena itu diharuskan dapat membedakan antara kegiatan kerja keseluruhan dan kegiatan kerja setempat. Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja keseluruhan  apabila kegiatan tersebut melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan. Sedangkan suatu kegiatan disebut kegiatan kerja setempat, apabila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja yang biasanya hanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Hubungan antara kedua macam kegiatan di atas akan terlihat bila untuk menyelesaikan suatu produk diperlukan beberapa stasiun kerja, dimana satu sama lainnya saling berhubungan, misalnya suatu perusahaan perakitan yang mempunyai bermacam-macam mesin produksi atau stasiun kerja (Sutalaksana, 1979).
Kelancaran proses produksi secara keseluruhan akan sangat tergantung pada kelancaran setiap stasiun kerja. Suatu hal yang bijaksana apabila dalam prakteknya nanti, pertama-tama berusaha untuk memperbaiki atau menyempurnakan setiap stasiun kerja yang ada sedemikian rupa sehingga didapatkan suatu urutan  kerja yang paling baik untuk saat itu, kemudian langkah berikutnya barulah menyempurnakan proses secara keseluruhan. Secara garis besarnya, penggambaran kedua kegiatan tersebut dalam bentuk peta-peta kerja untuk memperbaiki kegiatan produksi, biasanya dimulai dengan membuat ada atau cara sekarang. Setiapkegiatan yang berlangsung, yang terjadi distasiun-stasiun kerja yang telah digambarkan pada peta kegiatan keseluruhan diamati seterperinci mungkin. Penganalisaan ini dilakukan dengan terlebih dahulu menggambarkan peta-peta kerja setempat yang bersangkutan, dengan membuat peta-peta kerja setempat yang menunjujan keadaan sekarang. Keadaan sekarang ini lah yang dipelajari untuk diusahakan perbaikan-perbaikannya. Hasil perbaikan dinyatakan dalam peta-peta kerja setempat yang menggambarkan “cara yang diusulkan“. Berdasarkan perbaikan dari setiap stasiun kerja inilah analisa keseluruhan dilakukan. Hasil akhir dinyatakan dalam peta-peta kerja keseluruhan untuk cara yang diusulkan (Sutalaksana, 1979).
Masing-masing petea kerja yang akan dibahas berikut ini semuanya termasuk dalam kedua kelompok dibawah ini antara lain (Sutalaksana, 1979):
1.        Yang termasuk kelompok kegiatan kerja keseluruhan
a.                             Peta Proses Operasi
Peta proses operasi (operation process chart) umumnya digunakan untuk menggambarkan urut-urutan kerja khususnya untuk kegiatan-kegiatan yang produktif saja seperti operasi dan inspeksi. Dengan kata lain, pada Peta Proses Operasi, akan menunjukkan langkah-langkah secara kronologis dari semua operasi inspeksi, waktu longgar dan bahan baku yang digunakan di dalam suatu proses manufakturing yaitu dimulai dari datangnya bahan baku sampai ke proses pengemasan (packaging) dari produk jadi yang dihasilkan (Wignjosoebroto, 1993).
b.                            Peta Aliran Proses
Peta aliran proses adalah suatu diagram yang menunjukkan urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpanan yang terjadi selama satu proses atau suatu prosedur berlangsung, serta didalamnya memuat pula informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa seperti waktu yang dibutuhkan dan jarak perpindahan.Peta ini menunjukkan urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, dan menunggu yang terjadi selama proses pembuatan tempat kartu nama berdiri berlangsung.
c.                             Peta Proses Kelompok Kerja
Peta ini dapat digunakan dalam suatu tempat kerja dimana untuk melaksanakan pekerjaan tersebut memerlukan kerja sama yang baik dari sekelompok pekerja. Berikut ini adalah gambar peta proses kelompok kerja pembuatan tempat kartu nama berdiri.

d.                            Diagram Aliran
Diagram aliran merupakan suatu gambaran atau skala dari susunan proses   atau prosedur yang berlangsung, yang menunjukkan lokasi dari semua      aktifitas yang terjadi dalam peta aliran proses.
2.      Adapun yang termasuk kelompok kegiatan kerja setempat yaitu:
a.     Peta Pekerja dan Mesin
Peta pekerja dan mesin dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah perbaikan suatu sistem stasiun kerja, sehingga dicapai suatu keadaan ideal. Pada peta ini menggambarkan secara jelas kegiatan-kegiatan operator dan penggunaan mesin dalam proses pembuatan tempat kartu nama berdiri
b.    Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan
Peta tangan kiri dan tangan kanan menjelaskan kegiatan yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan pada saat membuat satu komponen. Pada peta ini diperhitungkan waktu dan jarak dari satu kali tangan melakukan aktivitas.
















LANDASAN TEORI Pengukuran Kerja Operator


LANDASAN TEORI


2.1       Pengukuran Kerja Operator
Pengukuran kerja operator adalah aktifitas untuk menilai dan mengevaluasi kecepatan operator. Tujuanya adalah untuk menormalkan waktu kerja yang disebabkan oleh ketidakwajaran. Pengukuran waktu kerja adalah usaha untuk menentukan lama kerja yang dibutuhkan seorang operator terlatih dan qualified dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik pada tingkat kecepatan kerja yang normal dalam lingkup kerja yang terbaik pada saat itu (gerradoke.blogspot.com).
Penelitian kerja analisa metode kerja pada dasarnya akan memusatkan perhatian pada suatu macam pekerjaan yang akan diselesaikan. Pekerjaan dikatakan selesai secara efisien apabila waktu penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan dengan usaha-usaha dalam menetapkan waktu baku yang dipergunakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Singkatnya pengukuran kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara jalur manusia yang dikonstribusikan dengan unit output yang dihasilkan (Sritomo, 1992).

2.2       Penyesuaian Waktu dengan Rating Performance Kerja
            Barangkali bagian yang paling penting tetapi justru yang paling sulit didalam pelaksanaan pengukuran kerja adalah kegiatan evaluasi kecepatan atau tempo kerja operator pada saat pengukuran kerja berlangsung. Kecepatan, usaha, tempo, ataupun performance kerja semuanya akan menunjukkan kecepatan gerakan operator pada saat bekerja. Aktifitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatan kerja operator ini dikenal sebagai Rating Performance. Secara umum kegiatan rating ini dapat didefinisikan sebagai a process during which the time study analyst compare yhe performance (speed or tempo) of the operator under observation with the opserver’s own concept of normal performance (Sritomo, 1992).
            Umumnya dalam pelaksanaan pengukuran kerja dilakukan terlebih dahulu pembagian operasi menjadi elemen-elemen kerja dan mengukur masing-masing elemen kerja tersebut. Pemecahan operasi menjadi elemen-elemen kerja perlu dilakukan dengan alasan-alasan sebagai berikut (Sutalaksana, 2006):
1.        Menggambarkan suatu operasi adalah dengan membagi kedalam elemen-elemen kerja yang lebih utama dan mempu untuk diukur dengan mudah secara terpisah.
2.        Besarnya waktu baku bisa ditetapkan berdasarkan elemen-elemen pekerjaan yang ada.
3.        Dapat menganalisa waktu baku yang berlebihan untuk tiap-tiap elemen yang ada.
4.        Operator akan bekerja pada tempo yang berbeda pada setiap siklus kerja berlangsung.
Kegiatan pelaksanaan kerja, kegiatan evaluasi kecepatan, dan waktu kerja operator merupakan bagian paling penting dan paling sulit dalam pelaksanaan pengukuran kinerja operator saat kegiatan berlangsung. Kecepatan, usaha, jarak, ataupun kinerja kerja lainnya akan memberikan kecepatan gerakan operator pada saat bekerja. Aktivitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatan kerja operator dikenal sebagai peringkat kinerja (Sutalaksana, 2006).
Peringkat kinerja ini dilakukan dengan harapan waktu kerja yang diukur dapat dinormalkan kembali. Ketidaknormalan dari waktu kerja diakibatkan kerja operator yang kurang wajar atau bekerja dalam waktu yang tidak semestinya. Penormalan waktu kerja yang diperoleh dari hasil pengamatan dilakukan dengan mengadakan penyesuaian menggunakan Tabel 2.1 (Sutalaksana, 2006).
Tabel 2.1 Penormalan Waktu Kerja
Nilai Kerja
Keterangan
P > 1 atau P > 100%
Operator dinyatakan bekerja terlalu cepat
P < 1 atau P < 100%
Operator dinyatakan bekerja terlalu lambat
P = 1 atau P = 100%
Operator dinyatakan bekerja secara normal atau wajar
2.3       Peringkat Kinerja dengan Metoda Peringkat Kecepatan
            Dalam praktek kemampuan kerja, metode penetapan peringkat kinerja kerja operator didasarkan pada suatu faktor tunggal yaitu kecepatan operator atau tempo operator. Sistem ini dikenal sebagai peringkat kinerja atau peringkat kecepatan yang umumnya dinyatakan dalam persen atau angka desimal, dimana kinerja tidak normal sama dengan 100% atau 0,01. Penetapan besar kecilnya angka akan dilakukan oleh analisis studi waktu sendiri, sehingga untuk itu dibutuhkan pengalaman yang cukup didalam mengevaluasi kerja yang ditunjukan operator. Pelatihan analisis studi waktu agar bisa merating secara tepat, manggunakan Time Study Rating Film (TSRF) yang diproduksi TSRF menggambarkan suasana yang ada dikantor, laboratorium operasi dan manufaktur. Dalam film ini digambarkan situasi-situasi kerja dari operator yang mengerjakan elemen kerja yang sama dengan berbagai kecepatan kerja yang berlainan. Analisa studi waktu akan dilatih untuk mengamati situasi kerja ini kemudian diharapkan memberikan penilaian kinerja secara langsung dari operator yang dilihat (Nurmiyanto, 1991).
Apabila penyimpangan penilaian yang dibuat tidak lebih dari 5% dari yang sebenarnya maka bisa diartikan bahwa analis studi waktu tersebut dapat mampu melaksanakan penilaian kinerja secara langsung. Faktor peringkat sebenarnya pada dasarnya diaplikasikan untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari pengukuran kerja akibat tempo atau kecepatan operator yang berubah-ubah. Untuk maksud ini, waktu normal dapat diperoleh dari rumus berikut (Nurmiyanto, 1991):




                  

2.4       Melakukan Perhitungan Waktu Baku
            Jika pengukuran-pengukuran telah selesai, yaitu semua data yang didapat memiliki keseragaman yang dikehendaki yang diinginkan, maka selesailah kegiatan pengukuran waktu. Langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut sehingga memberikan waktu baku (Sutalaksana, 2006).
            Waktu baku didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi satu unit kegiatan kerja, (Overseas Tehnical Opertioan Departement, 1988). Pengukuran-pengukuran, jika semua data telah didapat memiliki keseragaman yang diinginkan, maka selesailah kegiatan pengukuran waktu. Langkah-langkah yang diterapkan untuk mendapatkan waktu baku dari hasil data yang telah didapat, yaitu (Sutalaksana, 2006):
1.        Menghitung waktu siklus rata-rata.
Waktu siklus merupakan jumlah tiap-tiap elemen job.
Keterangan:
            = Jumlah waktu penyelesaian yang teramati
      N              = Jumlah pengamatan yang dilakukan
2.        Menghitung Waktu Normal.
Waktu normal merupakan waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja dalam kondisi wajar dan berkemampuan kerja rata-rata.
Keterangan:
Ws            = Waktu siklus
P               = Faktor penyesuaian
Faktor penyesuaian (P) diperhitungkan jika pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar. Sehingga, hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan atau dinormalkan terlebih dahulu untuk mendapatkan waktu siklus rata-rata yang wajar. Operator bekerja dengan wajar berarti memiliki faktor penyesuaian sama dengan satu (P=1), artinya waktu siklus rata-rata sudah normal. Jika bekerja terlalu lambat maka untuk menormalkan pengukur harus memberi harga P1 dan sebaliknya P1, jika dianggap bekerja terlalu cepat.

3.       Menghitung Waktu Baku .
Waktu baku, yaitu merupakan waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik saat itu.
Keterangan:
Wn      = Waktu normal
1          = Kelonggaran (allowance) yang dihasilkan pekerja untuk
menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal.
            Kelonggaran ini diberikan untuk hal-hal seperti kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatigue dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja. Umumnya kelonggaran dinyatakan dalam persen dari waktu normal.

            2.5       Kelonggaran
Penentuan waktu baku dilakukan hanya dengan menjalankan beberapa kali pengukuran dan perhitungan rata-ratanya. Jumlah pengukuran yang cukup dan penyusun satu hal lain yang kerap kali terlupakan adalah menambah kelonggaran atas waktu normal yang telah didapatkan. Kelonggaran diberikan untuk tiga hal, yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatigue dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja dan yang selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun dihitung. Karenanya sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal, kelonggaran perlu ditambahkan. Ketiga hal kelonggaran tersebut akan dijelaskan seperti berikut ini, yaitu (Sutalaksana, 2006):
1.        Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Kelonggaran kebutuhan pribadi di sini adalah hal-hal seperti minum sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, ke kamar kecil, dan bercakap-cakap. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan ketegangan ataupun kejemuan dalam bekerja.
Kebutuhan-kebutuhan ini jelas terlihat sebagai sesuatu yang mutlak misalnya, seorang pekerja diharuskan bekerja dengan rasa dahaga atau melarang pekerja untuk sama sekali tidak bercakap-cakap sepanjang jam-jam kerja. Larangan demikian tidak saja merugikan pekerja, tetapi juga merugikan perusahaan. Kondisi demikian pekerja tidak akan dapat bekerja dengan baik bahkan hampir dapat dipastikan produktifitasnya menurun.
Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi seperti itu berbeda-beda dari satu pekerja ke pekerja lainnya, karena setiap pekerja memiliki karakteristik dan tuntutan yang berbeda. Peneliti yang khusus perlu dilakukan untuk  menentukan besarnya kelonggaran ini secara tepat seperti dengan sampling pekerjaan. Berdasarkan penelitian ternyata besarnya kelonggaran bagi pekerja pria berbeda dengan pekerja wanita. Pekerjaan-pekerjaan ringan pada kondisi-kondisi normal pria memerlukan 2-2,5% dan wanita 5% (persentase ini adalah dari waktu normal).
2.        Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatigue
Rasa fatigue tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun kualitas. Salah satu cara untuk menentukan besarnya kelonggaran adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat di saat-saat hasil produksi menurun. Masalahnya adalah kesulitan dalam menentukan saat-saat menurunnya hasil produksi disebabkan oleh timbulnya rasa fatigue, karena masih banyak kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya.
Rasa fatigue telah datang dan pekerja harus bekerja, maka untuk menghasilkan performance normalnya, usaha yang dikeluarkan pekerja lebih besar dari normal yang akan menambah rasa fatigue. Hal ini berlangsung terus pada akhirnya akan terjadi fatigue total. Artinya adalah jika anggota badan yang bersangkutan sudah tidak dapat melakukan gerakan kerja sama sekali walaupun sudah dikehendaki. Hal demikian jarang terjadi, karena berdasarkan pengalamannya, pekerja dapat mengatur kecepatan kerjanya sedemikian rupa. Selambat-lambatnya gerakan kerja ditunjukan untuk menghilangkan rasa fatigue.
3.        Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan.
Berdasarkan pelaksanaan pekerjaan, pekerja tidak akan lepas dari berbagai hambatan. Terdapat hambatan yang dapat dihindarkan, seperti mengobrol yang berlebihan dan menganggur. Hambatan yang tidak dapat dihindarkan, yaitu jika berada di luar kekuasaan pekerja untuk mengendalikannya. Hambatan yang pertama jelas tidak ada pilihan selain menghilangkannya. Penyebab perlunya diperhitungkan dalam perhitungan waktu baku. Beberapa contoh yang termasuk ke dalam hambatan tak terhindarkan adalah:
a.     Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas.
b.    Melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin.
c.     Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti, mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas, dan sebagainya.
d.    Memasang peralatan potong.
e.     Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang.

2.6       Tingkat Ketelitian, Tingkat Keyakinan dan Pengujian Keseragaman
            Berbicara tentang tingkat ketelitian, dan pengujian keseragaman data, sebenarnya adalah pembicaraan tentang pengertian statistik. Karena untuk memahaminya secara mendalam, diperlukan beberapa pengetahuan statistik. Tetapi yang dikemukakan pada pasal ini adalah pembahasan kearah pengertian yang diperlukan dengan cara-cara sederhana (Sutalaksana, 1979).
1.        Tingkat kepercayaan dan Tingkat Keyakinan
Yang dicari dengan melakukan pengukuran-pengukuran ini adalah waktu yang sebenarnya dibutuhkan un tuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Karena waktu penyelesaian ini tidak pernah diketahui sebelumnbya maka harus diadakan pengukuran-pengukuran. Idealnya tentu dilakukan pegukuran-pengukuran yang sangat banyak (sampai tak terhingga), karena dengan demikian diperoleh jawaban yang pasti. Tetapi hal ini tidak mungkin karena keterbatasan waktu, tenaga dan tentunya biaya. Namun sebaliknya jika tidak dilakukan beberapa kali pengukuran saja, maka dapat diduga hasilnya sangat besar. Sehingga yang diperlikan adalah jumlah pengukuran yang tidak membebankan waktu, tenaga dan biaya yang besar tetapi hasilnya tidak dapat dipercaya. Jadi walapun jumlah pengukuran tidak berjuta kali, tetapi jelas tidak hanya beberapa kali saja (Sutalaksana, 1979).
Dengan tidak dilakukannya pengukuran yang banyak sekali, pengukuran akan kehilangan sebagian kepastian akan ketetapan atau rata-rata waktu penyelesaian yang sebenarnya. Hal ini harus disadari oleh pengukur bahwa tingkat ketelitian dan tingkat kepercayaan adalah pencerminan tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan melakukan pengukuran yang sangat banyak.
Tingkat ketelian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam persen. Sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukuran bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi. Tingkat kepercayaan pun dinyatakan dalam persen. Jadi tingkat ketelitian 5% dan tingkat kepercayaan 95% memberi arti bahwa pengukuran membolehka hasil pengukuranya menyimpang sejauh 5% dari rata-rata sebenarnya, dan kemungkinan berhasil mendapatkan kepercayaan ini adalah 95%. Dengan kata lain, jika pengukuran sampai memperoleh rata-rata penmgukuran yang menyimpang lebih dari 5%, hal ini dibolehkan hanya dengan kemungkinan 5% (=100%-95%) (Sutalaksana, 1979).
2.        Pengujian Keseragaman Data
Sekarang dapat dilihat beberapa hal yang berhubung dengan pengujian keseragaman data. Secara teoritis yang dilakukan dalam pengujian ini adalah berdasarkan teori-teori statistik tentang peta kerja kontrol ysng biasanya digunakan dalam melakukan pengendalian kualitas di pabrik atau tempat-tempat kerja lain (Sutalaksana, 1979).

2.7       Penyesuaian
            Setelah pengukuran berlangsung, pengukur harus mengamati kewajaran kerja yang ditunjukkan operator. Ketidakwajaran dapat saja terjadi misalnya bekerja tanpa kesungguhan, dll. Penyebab di atas dapat mempengaruhi kecepatan kerja. Kecepatan yang terlalu singkat atau terlalu panjangnya waktu penyelesaian. Hal ini tidak diinginkan karena waktu baku adalah waktu yang diperoleh dari kondisi dan cara kerja secara wajar (Sutalaksana, 2006).
            Terdapat 4 metode penyesuaian yaitu metode Shumard, metode Westinghouse, metode persentase, metode Bedaux dan Sintesa. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing metode tersebut (Sutalaksana, 2006):
1.        Metode Shumard
Memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas kinerja kerja dengan setiap kelas mempunyai nilai sendiri-sendiri. Disini pengukur diberi patokan untuk menilai performansi kerja operator menurut kelas-kelas superfast, fast+, fast, fast-, excellent, dan seterusnya. Berikut ini adalah tabel penyesuaian menurut cara Shumard.
Tabel 2.2 Penyesuaian Shumard
Kelas
Penyesuaian
Superfast
Fast +
Fast
Fast –
Excellent
Good +
Good
Good –
Normal
Fair +
Fair
Fair –
Poor
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
2.        Metode Westinghouse
Mengarahkan penilaian pada 4 faktor yang dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran. Keempat faktor tersebut adalah keterampilan, usaha, kondisi kerja, dan konsistensi. Setiap faktor terbagi dalam kelas-kelas dengan nilainya masing-masing. Keterampilan atau skill didefinisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Usaha adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya. Kondisi kerja adalah kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan pencahayaan, suhu, dan kebisingan ruangan. Konsistensi adalah salah satu faktor yang harus diperhatikan karena pada pada setiap pengukuran waktu angka-angka yang dicatat tidak pernah semuanya sama. Berikut ini adalah tabel penyesuaian menurut cara Westinghouse.
Tabel 2.3 Penyesuaian Westinghouse
Faktor
Kelas
Lambang
Penyesuaian
Keterampilan
Superskill

Excellent

Good

Average
Fair

Poor
A1
A2
B1
B2
C1
C2
D
E1
E2
F1
F2
+ 0,15
+ 0,13
+ 0,11
+ 0,08
+ 0,06
+ 0,03
   0,00
-  0,05
-  0,10
-  0,16
-  0,22
Usaha
Excessive

Excellent

Good

Average
Fair

Poor

A1
A2
B1
B2
C1
C2
D
E1
E2
F1
F2
+ 0,13
+ 0,12
+ 0,10
+ 0,08
+ 0,05
+ 0,02
   0,00
-  0,04
-  0,08
-  0,12
-  0,17
Kondisi Kerja
Ideal
Excellenty
Good
Average
Fair
Poor
A
B
C
D
E
F
+ 0,06
+ 0,04
+ 0,02
   0,00
-  0,03
-  0,07
Konsistensi
Perfect
Excellenty
Good
Average
Fair
Poor
A
B
C
D
E
F
+ 0,04
+ 0,03
+ 0,01
   0,00
-  0,02
-  0,04

3.        Metode persentase
Metode ini besarnya faktor penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh  melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran. Jadi sesuai dengan pengukuran dia menentukan harga p yang menurut pendapatnya akan menghasilkan waktu normal bila harga ini dikalikandengan waktu siklus.
4.        Metode Bedaux dan Sintesa
Cara Bedaux tidak banyak berbeda dengan cara Shumard, hanya saja nila-nilai pada cara Bedaux dinyatakan dalam “B” (huruf pertama Bedaux, penemunya) seperti misalnya 60 B atau 70 B. Sedangkan cara Sintesa sedikit berbeda dengan cara-cara lain, dimana dalam cara ini waktu penyelesaian setiap elemen gerakan dibandingkan dengan harga-harga yang diperoleh dari tabel-tabel data waktu gerakan, untuk kemudian dihitung harga rata-ratanya. Harga rata-rata yang dinilai sebagai faktor penyesuaian bagi satu siklus yang bersangkutan. Misalkan waktu penyelesaian untuk elemen-elemen pekerjaan pertama, kedua dan ketiga bagi suatu siklus adalah 17, 10 dan 32 detik. Dari tabel-tabel data waktu gerakan didapat untuk elemen-elemen yang sama masing-masing 12, 12 dan 29 detik. Yang berbeda adalah pada elemen-elemen kedua dan ketiga. Maka untuk elemen-elemen ini perbandingannya adalah 12/10 dan 29/32, rata-ratanya yaitu 1,05 adalah faktor penyesuaian untuk ketiga elemen pekerjaan tersebut atau untuk seluruh siklus yang bersangkutan.